Aku, sahabat baik yang selalu menempatkan dirimu di bagian teratas dalam daftar orang-orang yang sangat aku sayangi yang kupastikan hanya diisi oleh sedikit orang. Dan kemudian, kekecewaan itu datang. 'Hanya' karena suatu kebahagiaan yang tidak sempat kau beritakan padaku, sahabat yang bahkan siap menerima segala dukamu, yang siap menyediakan bahu untukmu bersandar, sedia menyiapkan waktu untuk mendengar keluh kesahmu. Undangan pernikahan yang engkau share di millis, tanpa pernah kau sampaikan langsung padaku, benar-benar mengusikku. Aku, yang bahkan bersedia menjadi orang paling sibuk di pernikahanmu, hanya 'diundang' secara tak resmi melalui millis.
Marah, Kecewa dan entah rasa apalagi yang berkecamuk di hatiku. Ditambah lagi karena kondisiku yang tidak memungkinkan, aku tidak menghadiri hari bahagiamu yang jauh dari tempatku saat itu, bahkan tidak ada ucapan selamat yang sampai padamu.
Aku begitu terluka ...
Tanpa sadar, luka ini bersarang. Kemarahanku mereda. Kekecewaanku pergi. Tapi jejaknya masih di sini. Membentuk suatu rasa ketidakpedulian terhadapmu. Aku bahkan tak berminat untuk mengetahui keadaanmu. Jarak yang memisahkan kita seakan ikut andil, mendatangkan 'lupa'akan engkau, 'lupa' akan apa yang pernah kita lalui bersama.
Dirimu seperti benar-benar terhapus dari ingatanku. Bukan aku lupa bahwa engkau ada seperti seorang yang amnesia. Aku lupa bahwa aku 'harus' bertanya bagaimana kabarmu, aku lupa bahwa ada sosokmu yang sebenarnya patut kuingat dan kusayang.
Entahlah, sepertinya kemarahan dan kekecewaan mendikte alam bawah sadarku. Memasukkan engkau ke dalam salah satu kotak, kemudian menguncinya. Sehingga tak pernah ada lagi keinginan untuk mengetahui tentang dirimu.
Dan kau sendiri, entah karena menyadari kemarahanku atau memang terlalu sibuk dengan hidupmu yang baru, seakan menghilang. Tanpa nomor kontak yang kau tinggalkan karena pindah Negara dan emailmu yang hamper tidak pernah muncul lagi di millis.
Semakin lama, jarak itu semakin melebar.
Kira-kira 1 tahun setelah itu (aku lupa kapan persisnya), seseorang bertanya padaku tentang kelahiran anakmu. Ia mungkin masih mengira, aku orang terdekatmu yang pasti tau tentang dirimu. Aku tersentak. Ingatan itu berkelebat cepat. Dengan tertunduk malu, aku menggelengkan kepalaku tanda ketidaktahuan ku akan berita menggembirakan itu.
Aku benar-benar teman yang payah. Bahkan setelah pertanyaan yang menyentak, aku hanya tergerak sedikit untuk mencari tau kabarmu. Kau melahirkan anak laki-laki yang sehat dan lucu. That's it .... Tidak ada lagi kabar yang kuterima dan kucari tahu.
Aku kembali pada rutinitasku dan kembali 'melupakanmu'
Dan, hampir 2 tahun setelah kekecewaan itu bermula, seorang sahabat tiba-tiba bercerita panjang lebar tentang dirimu dan keadaanmu yang diluar dugaanku. Dia bercerita tentang kondisimu yang tidak begitu baik, tentang kehidupanmu yang -maaf- agak memprihatinkan termasuk kabar bahwa kau terpaksa harus berpisah dengan anakmu untuk sementara waktu.
Kuakui, aku tersentuh. Tapi entah mengapa, sentuhan itu seperti air di daun talas. Hanya sejenak kurasakan keprihatinan itu dan kemudian semua hilang tak berbekas.
Sahabat yang sama, tampaknya menyadari kekurangpedulianku. Ia tidak membiarkan sentuhan itu hilang dariku. Ia terus bercerita tentangmu. Ia tidak memberiku ruang untuk sedikit saja 'melupakanmu'. Dan pada puncaknya, Ia mengajakku menemui anakmu.
Senyuman dan kelucuan anakmu lah yang ternyata sanggup merobohkan tembok yang kubangun. Wajah kecil dan menggemaskan itu sanggup melelehkan kebekuan hati yang menggerogotiku selama 2 tahun terakhir.
Dan sekarang, di sini lah aku. Merasakan kerinduan yang amat sangat padamu. Telingaku dahaga akan suaramu. Semua yang ada padaku merindukan kehadiranmu, kebaikanmu dan perhatianmu.
Maafkan aku karena membiarkan amarah ini merusak hatiku. Jika suatu saat kau kembali, aku janji akan berlari menyambutmu, menggenggam tanganmu, memelukmu. Dan kupastikan genggaman tangan itu takkan pernah lepas dariku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar